Senin, 31 Desember 2007 - 22:12 wib
Teror Tak Membuat Usman Patah Semangat
Kemas Irawan Nurrachman - Okezone
JAKARTA- Ada pepatah yang mengatakan, semakin tinggi pohon maka semakin banyak angin yang akan meniup. Mungkin inilah peribahasa yang cocok untuk pria kelahiran Jakarta 6 Mei 1976 ini.
Usman Hamid, sebagai pekerja di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Menuntun dirinya untuk selalu bersinggungan dengan kepentingan dan kekuasaan.
Bahkan tidak jarang orang-orang yang merasa kepentingannya terganggu, melakukan berbagai macam cara agar kepentingan dan kekuasaannya tidak terganggu. Mulai dari cara-cara yang sederhana hingga cara-cara yang di luar akal pikiran manusia.
Bahkan ada juga dengan cara penjebakan, seperti mengajak pertemuan di klab malam, ditawarkan minum-minuman keras, ditawarkan wanita tuna susila (WTS) hingga ditawarkan uang ratusan juta. "kalau saya mau sudah dari dahulu karier saya hancur, itu yang membuat saya tetap bersemangat menuntaskan semua kasus", tuturnya.
Dia merasa bersyukur, wanita bernama Veronica selalu mendampingi dalam susah maupun senang. Sejak menikah 2,5 tahun yang lalu wanita ini tidak pernah merasa lelah dan komplain terhadap apa yang di kerjakan sang suami.
Usman tidak pernah menyangka akan terjun ke dunia politik, berawal dari keingintahuannya dan ingin membongkar kasus penembakan empat rekannya Trisakti yang tewas akibat demonstrasi Reformasi 12 Mei 1998 membuat dia dan rekan-rekan berjuang mencari keadilan.
Sejak saat itu, Usman mulai kenal dengan beberapa tokoh LSM yang salah satunya adalah (alm) Munir yang merupakan pentolan dari Kontras. Seringnya Usman bertukar pikiran dengan teman-teman di kontras membuatnya jatuh cinta pada LSM ini dan resmi bergabung pada pertengahan tahun 1999.
Tugas pertama yang dilakukan oleh Usman adalah mengerjakan program pengorganisasian korban kekerasan Negara, di tempat itu merupakan wadah untuk memperjuangkan kasus-kasus korban tindak kekerasan yang di lakukan oleh aparat Negara. Mulai dari kasus Trisakti, Kasus Semanggi I dan II, Kasus Atma Jaya, Talang Sari dan lain-lain.
Waktu terus berjalan, Usman semakin larut dengan pekerjaan kontras. Bahkan banyak waktu yang tidak bisa diluangkan dengan kelurga."Memang agak kesulitan tetapi ya memang sekena sajalah", tandasnya.
Tetapi jika memang ada waktu untuk kembali berkumpul dengan keluarga, Usman tidak membuang-buang waktu. Bersama isteri tercinta, melakukan kunjungan ke rumah kedua orang tua atau merasakan kembali masa pacaran."Seperti bermain sepeda berdua, sekedar makan malam di luar atau iseng mencari rumah", tukasnya.
Usman pun berharap nantinya jika mempunyai rumah harus mempunyai pohon yang banyak dan memliki suasana yang sejuk dan asri,"Selain bisa menetralkan pikiran, saya juga menyukai tanaman," tuturnya.
Bermain Gitar Untuk Keluarga Korban.
Diwaktu senggang, anak dari pasangan (Alm) Abdul Hamid dan Halimatus Sa'diyah ini lebih memilih bermain gitar bersama teman-teman. Mulai dari sekedar mengisi waktu dengan manggung di sebuah kafe Semanggi sampai road show di kampus-kampus.
Dengan menyayikan lagu bertema santai seperti The Beatles sampai lagu beraliran keras Rooling Stone selalu di bawakan dalam setiap pementasannya. Membuat dirinya seakan bisa menghibur kesedihan sesaat keluarga korban-korban tindak kekerasan dan tidak jarang melalui musik muncul ide-ide cemerlang melalui diskusi kecil politik sesama rekan.
Namun, bayangan itu sekarang tinggal kenangan. Pada tahun 2001 alat-alat studio band telah banyak di jual dan di bawa oleh teman-teman,"Mulai sejak itu saya tidak bermain musik lagi dan mulai sibuk dengan berbagai rutinitas Kontras", tuturnya.
Dalam kesibukan mengurus berbagai korban tindak kekerasan, Usman mempunyai seberkas harapan agar semua kasus dapat berjalan dengan baik bahkan selesai dengan keikhlasan berbagai pihak.
Dirinya berharap munculnya generasi-generasi penerus yang dapat memegang estafet kepemmimpinan dalam berbagai sektor." Walaupun banyak juga generasi muda yang berprestasi, agar terus di wacanakan", tukasnya.
Sepenggal kisah Usman Hamid, Lulusan Fakultas hukum unversitas Trisakti tahun 1999 dan mendapat kesempatan belajar satu semester sebagai Visiting Scholar di Columbia Univesity 2003. Dirinya pernah menjabat sebagai mantan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Usakti yang memulai aktivitismenya sejak peristiwa penembakan empat mahasiswa yang tewas pada insiden berdarah 12 Mei 1998 menjelang jatuhnya mantan Presiden Soeharto.
Selama itu juga bergabung bersama gerakan mahasiswa 1998-1999. Bergabung dengan Kontras pada tahun 1999 hingga saat ini. Di tingkat Negara, pernah terlibat dalam misi uji balistik delegasi polisi dan militer ke Montreal, Kanada (1999). Lalu pada tahun 2001, ditunjuk Komnas HAM menjadi sekretaris Komisi Penyelidik Pelanggaran HAM Trisakti, Semanggi I dan Semanggi II untuk menginvestigasi berbagai insiden penembakan mahasiswa di tahun 1998-1999.
Selanjutnya pada November 2004 ikut dalam Tim Polri ke Belanda pada kasus kematian aktivis Munir, saat itu pula menjadi Sekretaris Tim Pencari Fakta Kasus Munir.
Tokoh Sebelumnya
-
01/01/2008 - 01:47:55 wib
Faisal Basri
Tertarik Ekonomi Gara-gara Baca Majalah Prisma -
01/01/2008 - 01:47:42 wib
Setio Rahardjo
Saya Kok Diperlakukan Seperti Koruptor -
01/01/2008 - 01:47:31 wib
Roy Suryo
Bertahan dari Badai Gunjingan dan Kritik Pedas -
01/01/2008 - 01:47:09 wib
Adrie Subono
Optimisme, Kerja Keras dan Disiplin adalah Modal Utama Meraih Kesuksesan

