Gesang Martohartono
Senin, 8 Oktober 2007 - 14:31 wib
Maestro Keroncong yang Mendunia
- Okezone
Bengawan SoloRiwayatmu ini
Sedari dulu jadi...
Perhatian insani
Apakah Anda masih ingat penggalan lirik ini, dan masih ingatkah siapa penciptanya. Ya ini adalah lirik lagu Bengawan Solo, ciptaan maestro keroncong Gesang Martohartono atau biasa dipanggil Gesang. Lagu ini tercipta tahun 1940-an dan diciptakan karena tidak sengaja. Lagu Bengawan Solo diciptakan Gesang ketika berjalan-jalan ke sungai Bengawan Solo yang tenang dan menjadi jantung Solo kala itu. Dari itulah terbesit ide untuk menumpahkan isi hati, sehingga tercipta lagu yang indah tersebut.
Pria kelahiran 1 Oktober 1917 ini masih terlihat segar saat merayakan ulang tahunnya ke-90 tahun (2007) kemarin. Dalam ulang tahun kali ini, Gesang mendapat hadiah tidak terlupakan yakni Pemerintah Kota Solo akan menetapkan Solo sebagai Kota Keroncong tepat di hari ulang tahunnya.
Ketenaran “Bengawan Solo” ternyata sampai menyebrang lautan. Bukan hanya di dataran China dan Jepang saja, namun lagu ini sudah sampai negeri Vietnam. Apresiasi ini diwujudkan dengan terbentuknya Yayasan Peduli Gesang (YPG) yang digawangi warga keturunan Jepang dan pengagum Gesang.
Gesang mengakui, keberhasilan dirinya menduniakan keroncong berkat jasa mantan Presiden Indonesia Soekarno. Dia masih ingat betul, berkat jalan-jalannya bersama orang nomor satu di Indonesia ini, Gesang menjadi nama yang patut diperhitungkan di jajaran keroncong.
“Pada masa lalu, saya sering membawa misi kesenian ke RRC, Vietnam, dan negara Asia Tenggara lainnya,” kata Gesang beberapa waktu lalu.
Kepopuleran lagu Bengawan Solo di Negara Jepang sudah sejak setengah abad yang lalu. Kala itu, para serdadu Jepang yang mendarat di pulau Jawa mendengarkan lagu itu sebagai penghibur hati.
Mereka mengaku, ketika mendengar lagu tersebut merasakan ketenangan hati. Tidak hanya itu, lagu tersebut dapat menimbulkan nostalgia masa muda mereka. Pasalnya, melodi lagu Bengawan Solo mirip dengan lagu rakyat Jepang.
Seusai perang, lagu tersebut masih “membekas” di benak para serdadu Jepang ini hingga menuju Negeri Sakura. Sejak saat itu, lagu Bengawan Solo menjadi tenar. Bahkan, lagu versi bahasa Jepang konon menjadi populer.
Usia Senja Gesang Tetap Produktif Buat Lagu
Menginjak usia senja, kreasi Gesang belum pudar. Tahun 2002 silam, Gesang dan perusahaan lebel PT Gema Nada pertiwi meluncurkan album khusus yang keempat. Sebelumnya, Gesang sudah menciptakan album khusus tahun 1982, 1988, dan 1999.
Presiden Direktur GMP, Herdamin Susilo menyatakan album ini merupakan album khusus yang belum pernah direkam sebelumnya. Dari 14 lagu dalam rekaman cakram padat (CD), enam di antaranya merupakan lagu yang belum pernah direkam. Yaitu Seto Ohashi (1988), Tembok Besar (1963), Borobudur (1965), Urung (1970), Pandanwangi (1949), dan Swasana Desa (1939). Selebihnya lagu-lagu lama karya Gesang, yang temanya menyinggung usia Gesang yang sudah senja seperti Sebelum Aku Mati, Pamitan, dan tentu saja Bengawan Solo.
Dia menuturkan, jika dilihat dari segi bisnis penjualan album keroncong kurang menghasilkan keuntungan. Pasalnya, segmentasi keroncong di dalam dan luar negeri masih kecil.
“Tetapi, dalam hidup ini kan ada harga yang lain. Yakni ketika kita dihargai oleh orang lain, seperti penghargaan orang Jepang terhadap Pak Gesang itu. Macam itu tidak bisa dinilai dengan uang saja," katanya. (kem/diolah dari berbagai sumber)
()
Tokoh Sebelumnya
-
01/01/2008 - 01:47:55 wib
Faisal Basri
Tertarik Ekonomi Gara-gara Baca Majalah Prisma -
01/01/2008 - 01:47:42 wib
Setio Rahardjo
Saya Kok Diperlakukan Seperti Koruptor -
01/01/2008 - 01:47:31 wib
Roy Suryo
Bertahan dari Badai Gunjingan dan Kritik Pedas -
01/01/2008 - 01:47:09 wib
Adrie Subono
Optimisme, Kerja Keras dan Disiplin adalah Modal Utama Meraih Kesuksesan

